Irfan Red Blog

Wakijo dan Presiden

Posted by: irfan on: October 29, 2008

Oleh Wartawan Kompas.com IGN Sawabi

YOGYAKARTA - Membaca judul tulisan ini, sepintas mengingatkan sebuah film karya Judy Subroto di tahun 90-an. Waktu itu, kata “presiden” dalam judul film dengan bintang utama Yaty Surachman itu, sempat menjadi polemik, Nyoman dan Presiden. Sebuah film dengan setting tempat Denpasar dan sekitarnya.

Departemen Penerangan kala itu seolah mengharamkan kata “presiden” untuk judul film. Setelah melalui pederbatan panjang, akhirnya disepakati penggantian judul menjadi Nyoman dan Merah Putih.

Saat itu, kata “presiden” memang seolah sebuah menara gading. Bahkan jika kita dilakukan penelitian, tidak ada satu anak pun yang bercita-cita menjadi presiden. Tetapi ada boneka yang dengan beraninya bercita-cita menjadi presiden, yakni Suzan boneka milik Ria Enes.

Sepulang dari menyaksikan deklarasi Sultan Hamengku Buwono X sebagai calon presiden dalam pilpres 2009 Jumat 28 Oktober sore tadi, saya sengaja memilih naik becak. Saya ingin tahu, mengapa pembawa acara beberapa kali mengatakan rakyat Yogyakarta harus legowo, jika Sultan HB X berkiprah di tingkat nasional.

Saya memilih becak yang sejak siang ngetem di depan Sate Pak Amat, Alun-alun Utara untuk mengantar saya ke kantor Kompas biro Yogya di Jl Suroto. Pak becak tadi, sebut saja namanya Wakijo, adalah warga Bantul Yogyakarta. Meski lahir, besar dan mencari makan di Yogya, Wakijo adalah salah satu orang yang kurang sependapat jika Sultan berkiprah di tingkat nasional.

Wakijo dan saya, berdiskusi tentang presiden sambil menyusuri jalan raya di Yogya. Meski baru kenal, seolah kami seperti teman lama. Begitu salah satu karakter warga Yogya yang akrab, ramah, semanak dan bisa menerima siapa saja.

“Saya sedih banget Mas, kalau Ngarsa Dalem (sebutan Sultan oleh rakyat Yogya) meninggalkan Yogya, meskipun jadi Presiden,” begitu kalimat pertama Wakijo ketika saya tanya.

Dari becak tanpa atap itu, saya bisa melihat wajah Wakijo yang gundah. “Lho, sampeyan kan harusnya senang, bangga, wong sampeyan kenal dengan Calon Presiden?” saya mencoba mengorek lebih jauh.

Sambil mengayuh becak, Wakijo berbicara begitu keras volume suaranya. Mungkin khawatir saya tidak mendengar ucapannya, karena lalu lintas di Yogya sore itu sangat ramai. “Siapa nanti yang akan melindungi saya, kalau Ngarsa Dalem pindah ke Jakarta?” katanya. Selama ini, begitu Wakijo melanjutkan ceritanya, Ngarsa Dalem lah yang melindungi kami. Kalau Ngarsa Dalem ke Jakarta, mungkin saya dan teman-teman tidak bisa mengayuh becak lagi. Teman-teman yang jualan di pinggir jalan akan digusur…”

Sampai di situ kalimat Wakijo terputus-putus, entah karena tenggorokannya tercekat oleh kegundahan hatinya atau entah karena dia terengah-engah mengayuh becaknya.

“Apa becak dan PKL akan digusur?”

Wah jan, sudah bola-bali diisukan akan digusur, becak juga mau dikandangkan dan lain-lain. Harapan saya tinggal kepada Ngarsa Dalem,” kata Wakijo sambil terus menerus berceloteh tentang kepemimpinan Sultan sebagai Gubernur dan sebagai seorang ayah dari wong cilik.

Sejenak saya teringat pada berita utama Kompas Cetak edisi 27 Oktober. Dalam berita yang dilengkapi grafis hasil jajak pendapat itu secara jelas menyebutkan, jawaban responden tentang kepentingan nasional dan kepentingan daerah lebih banyak yang menjawab kepentingan daerah.

Pertanyaan dalam jajak pendapat itu cukup simpel. Menurut Anda, apakah para pemuda saat ini lebih menonjolkan kepentingan daerah atau mengutamakan kepentingan seluruh bangsa?  74,9 responden memilih jawaban “kepentingan daerah”, 21,8 persen menjawab “kepentingan nasional” sisanya menjawab “tidak tahu”.

Wakijo mungkin menjadi salah satu cerminan yang lebih tragis lagi. Wakijo tidak melihat kepentingan daerah maupun nasional, tetapi kepentingan Wakijo sendiri. Tentu Wakijo ini memiliki dasar pemikiran yang kuat sebelum mengeluarkan pendapatnya, apalagi dia juga sebagai salah satu ketua paguyuban tukang becak. Tentu Wakijo yang ini memiliki keistimewaan.

Jika Wakijo menjadi salah satu responden pada jajak pendapat itu, mungkin dia akan kesulitan menaruh dimana jawabannya. Sebab pada ketiga pilihan jawaban, tidak ada yang cocok dengan sikap Wakijo.

Kita lupakan jajak pendapat itu. “Apa sampeyan tadi mendengarkan pidato Sultan?” Mendapat pertanyaan itu, Wakijo balik bertanya, “Mas-nya ini siapa to, kok tanyanya ndrindhil… apa-apa ditanyakan?”

Setelah tahu profesi saya, Wakijo kembali bersemangat bercerita. “Ya mendengarkan to Mase. Saya kan juga ada di Alun-alun Lor… Saya gemeteran waktu mendengarkan pidato pendek dari Ngarsa Dalem tadi…”

Kok gemeteran kenapa? “Lha ya itu tadi, kalau Ngarsa Dalem ke Jakarta, siapa yang melindungi saya?”

Kan masih banyak pemimpin yang lain to Kang?

“Halah Mas.. kayak ndhak tahu saja penjenengan ini. Memang banyak pemimpin, tetapi pemimpin yang mengayomi yang sangat sedikit. Kalau yang ngeyem-yemi (suka memberi janji) banyak, tetapi yang melindungi, ngayomi, menenteramkan itu yang sedikit,” kata Wakijo.

Tampaknya Wakijo ini penggemar dalang sepuh Ki Timbul Hadiprayitno dari Bantul. Saat menggelar acara ruwat bumi dan dihadiri Gus Dur di Alun-alun Selatan Yogyakarta beberapa tahun lalu, Ki Timbul sempat mengupas tipe pemimpin masa kini, masa lalu, dan masa depan. Salah satu poin yang saya catat, bahwa pemimpin sekarang lebih banyak yang ngeyem-yemi, tetapi sedikit yang mengayomi. Atau barangkali hal itu sudah menjadi idiom umum.

Tak terasa, perjalanan kami sudah sampai di kantor Kompas Biro Yogyakarta. Saya dan Wakijo berpisah. Tetapi sebelum pergi Wakijo sempat melontarkan pertanyaan untuk saya, “Kapan Mase ke Yogyakarta lagi, saya siap antar kemana pun.” Saya hanya tersenyum, “Ya kapan-kapan Kang!”

Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

3 Responses to "Wakijo dan Presiden"

betul saya sependapat dengan wakijo

mbok kowe wae fan sing nyalon presiden…..

wakakak….

Leave a Reply


  • razaq: mas coomandnya buat menghapus file itu apa ya??
  • alsinji: Ternyata bisa nambah Distro lain di LILO, jujur baru tahu saya. Kirain tidak bisa. Soalnya kalau habis install slackware belakangan, saya langsung rei
  • alsinji: Tutorial yang sangat menarik. Terima kasih, di save dulu tutorialnya baru di coba.